Masturbasi, Kenapa Dilarang ?
Tanya:
Saya baru lulus SMU. Saya pernah mendengar bahwa masturbasi (onani) tidak
memberikan efek apapun pada kesehatan kita. Tapi kenapa banyak orang yang
melarangnya? Bukankah dengan masturbasi setidaknya kita terhindar dari
perzinahan yang jelas-jelas dilarang oleh agama?
Tepat sekali apa yang kamu dengar itu.
Masturbasi memang tidak memberikan efek, apapun pada kesehatanmu. Akan
tetapi bahwa guru, orangtua dan ulama melarangnya tentu ada sebabnya.
Masturbasi dapat menimbulkan beban psikis yang tidak ringan yaitu
munculnya perasaan bersalah. Perasaan bersalah ini pada akhirnya akan
menimbulkan ketegangan (stres). Kondisi ini diperburuk oleh kenyataan
bahwa onani menimbulkan rasa ketagihan seperti kecanduannya seseorang
terhadap narkoba. Rasa bersalah dan ketagihan inilah yang merupakan awal
munculnya gangguan psikis pada para pelakunya.
Rasa bersalah mucnul karena masturbasi merupakan hal yang sangat tidak
dianjurkan oleh agama. Secara naluri sebenarnya tiap orang tahu bahwa
melakukan masturbasi itu tidak benar. Itu bisikan suara kebenaran yang
tidak dapat diabaikan begitu saja. Suara kebenaran yang bersumber dari
nurani manusia ini akan terus menegur pelakunya bila melakukan aktivitas
tersebut. Sia-sia manusia berusaha mengabaikan hal ini. Itulah sebabnya
setiap pelaku onani akan selalu, sekali lagi selalu, dihantui rasa
bersalah dan tertekan. Mereka yang sudah terbiasa melakukan onani akan
banyak menghadapi gangguan psikis sebagai berikut.
Gangguan penurunan ingatan
Kekuatan memori otak akan mengalami penurunan (pelupa). Mengapa?
Diibaratkan, setiap pelaku kejahatan akan selalu berusaha menghindari
kejaran polisi. Sejak itu, kehidupannya tidak pernah tenang. Setiap detik
kehidupannya dipenuhi upaya bagaimana meloloskan diri dari kejaran aparat.
Seluruh panca indranya siaga penuh 24 jam. Ini sangat menguras kemampuan
otak dan daya ingatnya. Otak boleh saja bekerja keras dalam waktu lama,
tetapi bukannya tanpa batas dan waktu yang jelas. Hal yang sama berlaku
pada onani. Setiap detiknya akan selalu dikejar-kejar dosa. Akal
pikirannya selalu digunakan untuk mencari alasan pembenaran bagi
aktivitasnya itu. Karena akal pikiran dipaksa bekerja untuk selalu melawan
suara hati yang tidak pernah lelah menegurnya, maka kemampuannya merosot
tajam. Singkat kata, daya ingat maupun kemampuan berpikirnya menurun
drastis. Bagi siapapun, hal ini sangat tidak menguntungkan. Jika ia
seorang pelajar atau mahasiswa, maka pelan tapi pasti indeks prestasinya
akan melemah. Bila ia seorang karyawan, produktivitas kerjanya juga akan
menurun. Kreativitas dan daya inovasinya cenderung mandul.
Kepercayaan diri menurun
Karena kemampuan berpikirnya merosot, mudah dimengerti bila ia kemudian
menjadi kurang percaya diri. Sedikit demi sedikit, ia akan menarik diri
dari pergaulan, karena khawatir prestasi akademik (prestasi kerja) yang
menurun menjadi bahan pembicaraan rekan-rekannya. Perubahan sikap ini pada
gilirannya akan berujung pada munculnya gangguan hubungan antar personal.
Hampir setiap orang tahu hal ini kurang sehat bagi yang bersangkutan.
Faktor kecanduan yang mempersulit penyembuhan
Bagi mereka yang akhirnya menyadari pengaruh buruk di atas biasanya
berusaha keras untuk menyudahi kebiasaan buruk ini. Tentu saja ini tidak
mudah karena ia berada dalam situasi konflik antara suara nurani yang
tanpa henti menegurnya dan ketagihan melakukan onani akan sangat
mempersulit terlaksananya niat baik tersebut. Biasanya kesulitan ini akan
menimbulkan frustasi dan sebagai pelariannya ia akan kembali melakukan
masturbasi. Gencarnya pornografi dan porno aksi sekarang ini ikut
mendorong hal itu. Kesulitan yang dihadapinya tak ubah seperti perokok
yang sangat ingin berhenti tapi selalu gagal. Oleh karena itu, jangan
mendekati onani, rokok atau narkoba jika tidak ingin terjebak dalam
masalah yang tidak berkeputusan.
Semoga jawaban ini memuaskanmu.
Republika, 30 Nopember 2003 |